300 Antropolog Serukan Darurat Keindonesiaan

Jakarta – Berbagai pertanda jelas memperlihatkan nilai-nilai Keindonesiaan, termasuk semboyan Bhinneka Tunggal Ika, terus menerus digerus. Pengamatan tersebut memicu hampir 300 antropolog dari seluruh Indonesia untuk menyatakan Darurat Ke-Indonesia-an. Antropolog senior, Prof Dr Meutia F Swasono, mengatakan, Indonesia merupakan rumah bersama dari keragaman agama, ras, etnis, gender, kepercayaan, keyakinan, kelas sosial, dan sudut pandang. Indonesia bukan hanya yakin tapi juga bangga dengan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu. “Namun beberapa peristiwa belakangan memperlihatkan adanya kelompok-kelompok yang mempertajam perbedaan dengan melakukan politik identitas,” kata Meutia Swasono, dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com , di Jakarta, Jumat (16/12). Sering dengan itu, lanjut dia, terlihat upaya yang justru menegaskan perbedaan, menarik garis batas antara yang satu dan yang lainnya, maupun mengucilkan yang berbeda. “Ada pula pemaksaan kehendak atas mereka yang dianggap berbeda,” jelasnya. Para antropolog dari sejumlah kota di Indonesia bertukar pikiran dan mencapai kesamaan pandangan. Antropologi mengajarkan, Indonesia yang bhineka dan beragam adalah konstruksi sosial. Kekerasan, penyingkiran, pembungkaman adalah ancaman pada keindonesiaan kita. “Nilai keindonesiaan kita terus digerus. Kami menganggap penting menyatakan darurat keindonesiaan agar semua pihak menyadari bahwa ini bukan soal kecil. Ini soal siapa dan apa kita sebagai Indonesia,” kata Meutia Swasono. Salah satu sikap bersama adalah menolak segala bentuk kekerasan dan pemaksaan, penyerangan, serta pembungkaman terhadap kelompok agama, ras, etnis, gender, kepercayaan, keyakinan, kelas sosial, atau sudut pandang yang berbeda. “Pada saat bersamaan, pemerintah, khususnya Panglima TNI dan Kapolri, diminta menegakkan hukum secara adil dan independen, yang tidak terpengaruh oleh tekanan kelompok tertentu,” jelasnya. Gerakan Antropolog Untuk Indonesia Yang Bhineka dan Inklusif, juga menyerukan pula penggunaan media sosial untuk memperluas jalinan persahabatan dan persaudaraan, bukan untuk menyudutkan warga, kelompok, atau golongan lain. “Penyataan sikap dan seruan tersebut semata-mata bertujuan untuk menjaga dan merawat bersama kesatuan Indonesia yang dibangun para perintis bangsa lebih dari 70 tahun lalu. Di tengah tantangan global masa kini dan masa depan, Indonesia harus dan jelas mampu bertahan sebagai satu negara besar dengan kearifan keragaman yang dibanggakan,” kata Meutia Swasono. Feriawan Hidayat/FER BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu